Who's Online

Kami memiliki 49 tamu dan tidak ada anggota online

Yayasan Gibbon Indonesia

Jl. T. Wiradireja No.216
Cimahpar - Bogor 16155
Jawa Barat - Indonesia
T: +62-251-8657220
F: +62-251-8650132
E: info[at}gibbon-indonesia.org

Pengurangan Resiko Bencana Berbasis Sekolah

Bencana silih berganti menimpa negeri ini.  Mulai dari banjir yang melanda Jakarta, hingga gempa bumi yang menimpa Garut dan Padang. Di penghujung tahun 2009, Yayasan Pusat Informasi Lingkungan Indonesia (PILI)

melengkapi Oborolan Kamis Sore dengan mengangkat tema “ Pengurangan Resiko Bencana Berbasis Sekolah” yang kegiatannya dilakukan di beberapa sekolah dasar di Bogor.

Melalui jalur pendidikan formal dan anak-anak sebagai agent of change, diharapkan kegiatan ini dapat melibatkan banyak elemen, mulai dari sekolah, guru, komite sekolah, siswa lain di sekolah, dan juga  masyarakat di sekitarnya.

Singkatnya, dalam program ini siswa sekolah dilibatkan dalam pengurangan resiko bencana banjir, dan berkoordinasi dengan siswa sekolah lain yang tinggal di lokasi rawan bencana.

Menurut  Dianing, program Pengurangan Resiko Bencana Berbasis Sekolah ini dilakukan dengan melalui beberapa tahap. Antara lain, persiapan seleksi sekolah (sistem kluster), MOU, Materi Ajar, Pembekalan Fasilitator, Training Guru, Pembelajaran di Sekolah (6 kali pertemuan), Bogor School Forum, Jaringan Komunikasi Tim Siaga Bencana Ciliwung dan keberlanjutan tim siap siaga di sekolah, serta penyusunan modul untuk guru dan siswa.

Beberapa pertanyaan menggelitik banyak dilontarkan. Menurut Elin dari IISES bahwa kaitan kerja PILI di bidang keanekaragaman hayati dengan
bencana, bila ditinjau dari hak anak, kegiatan ini agak subsersif. Bagaimana info yang diberikan anak, berkaitan dengan hak, kepada orangtuanya?

“Anak-anak diberi pemahaman tentang perannya, juga guru-gurunya. Anak-anak memantau, dan meminta ijin guru, bisa tidak menghubungi
penjaga pintu air, dan guru yang akan menghubungi guru lain. PILI menggunakan keanekaragaman hayati sebagai pintu masuk. PILI juga sudah melalu pelatihan dalam mengenali hak anak”, Dianing menjawab pertanyaan Elin.

Lain halnya Koen Setyawan, berpendapat kegiatan PILI dalam melibatkan anak-anak bisa “mempermalukan” pemerintah, dalam arti kegiatan
pengurangan resiko bencana ini seharusnya merupakan tanggung jawab pemerintah. Mungkin akan lebih baik bila pemerintah juga dilibatkan dalam kegiatan ini. Koen juga menyinggung bagaimana membangun jaringan antar sekolah, sementara setiap sekolah mempunyai ego sektoral. Koen memberikan saran, agar PILI bisa melibatkan sekolah-sekolah yang tidak berada di daerah rawan bencana. Sekolah biasanya hanya “takut” pada Diknas.

Dianing menjelaskan bahwa kegiatan yang dilakukan PILI mendapat rekomendasi dari Diknas sebelum masuk ke sekolah untuk mengisi pelajaran pendidikan lingkungan hidup. Latas dibuat kesepatakatan sesuai dengan kenginan sekolah di daearah hulu dan hilir. Dan menghubungi Diknas dan dinas lingkungan hidup untuk kerjasama sekolah.Untuk menghindari perbedaan persepsi, PILI juga menghubungi DPRD komisi pendidikan. Dan sejauh ini tidak ada masalah hubungan antar sekolah dalam menjalankan kegiatannya. [Irma Dana].