Who's Online

Kami memiliki 52 tamu dan tidak ada anggota online

Yayasan Gibbon Indonesia

Jl. T. Wiradireja No.216
Cimahpar - Bogor 16155
Jawa Barat - Indonesia
T: +62-251-8657220
F: +62-251-8650132
E: info[at}gibbon-indonesia.org

Penanggulangan Kemiskinan dengan Menjaga Lingkungan, Mengapa Tidak?

Semakin menarik saja isu yang dibicarakan dalan Obrolan Kamis Sore. Dan pada 23 Juni 2011 lalu, giliran Wildlife Conservation Society (WCS) berbagi kegiatan terbarunya. Namun, kali ini tidak menceritakan kehidupan satwa liar

atau pun konservasinya. Agustinus Wijayanto, atau yang lebih akrab disapa AW, menceritakan tentang Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Lingkungan Mandiri Pedesaan (PNPM LMP), dimana sebelumnya dikenal sebagai PPK (Program Pengembangan Kecamatan) Hijau atau PPK Lingkungan. Juga merupakan Program Pendukung PNPM Mandiri Perdesaan yang mengutamakan perbaikan serta pengelolaan lingkungan dan sumber daya alam secara lestari ke dalam salah satu program nasional dalam penanggulangan kemiskinan yang terintegrasi di Indonesia.

Pendanaan pada PNPM LMP berupa hibah dari Bank Dunia dengan mekanisme program dan pendanaan mengikuti PNPM Mandiri Perdesaan. “Tujuan dasar PNPM LMP, adalah meningkatkan kesejahteraan dan kesempatan kerja masyarakat miskin di perdesaan dengan mendorong kemandirian dalam pengambilan keputusan dan pengelolaan pembangunan perdesaan melalui pengelolaan lingkungan dan sumber daya alam secara lestari. Sampai tahun 2008, program PNPM belum banyak menyentuh lingkungan, masih kegiatan fisik,” cerita AW.
Ada 11 prinsip dasar PNPM LMP yaitu:

  1. Bertumpu pada pembangunan manusia;
  2. Otonomi;
  3. Desentralisasi;
  4. Berorientasi pada masyarakat miskin;
  5. Partisipasi;
  6. Kesetaraan dan keadilan gender;
  7. Demokratis;
  8. Transparansi dan akuntabel;
  9. Prioritas;
  10. Keberlanjutan; serta
  11. Berpihak kepada lingkungan

“Prinsip dasar yang ke sebelas ini yang membedakannya dengan PNPM MP, prinsip ini diterapkan sejak saat penggalian gagasan. Selain itu proses penggalian gagasan ini mulai dari bawah ke atas. Jadi mulai dari tingkat dusun, untuk mengetahui potensi dan kebutuhannya apa. Maka kegiatan tersebut tidak tiba-tiba muncul, tetapi melalui proses diskusi yang panjang, terkait isu-isu lingkungan dan sumber daya alam. Kegiatan Lingkungan Mandiri Pedesaan ini murni hibah bukan pinjaman,” tambah AW.

Dengan dana hibah ini, Sulawesi dipilih menjadi lokasi pilot program Green KDP pertama meliputi tiga propinsi yaitu Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, dan Sulawesi Utara, dimana masing-masing propinsi dipilih tiga kabupaten dan masing-masing kabupaten dipilih tiga kecamatan yang mewakili daratan dan pesisir. WCS-IP dipercayakan untuk mendukung kegiatan di Propinsi Sulawesi Utara selama durasi program 2007-2010.

Perkembangan signifikan program ini adalah bahwa PNPM LMP kemudian dikembangkan di Sumatra untuk tahun 2010-2012 meliputi DI Aceh, Propinsi Sumatera Utara, Sumatera Barat, dan Bengkulu yang terdiri atas 15 kabupaten dan 45 kecamatan lokasi pilot. WCS-IP dan Konsorsium Sumatra dipercaya untuk mendukung kegiatan tersebut dengan menitikberatkan pada pengarustamakan peningkatan kesadartahuan tentang lingkungan dan peningkatan kapasitas melalui pelatihan untuk fasilitator, masyarakat dan para pihak terkait.

Perbedaan lain pada PNPM LMP adalah adanya pendampingan dari LSM atau CSO (Civil Society Organisation). LSM/CSO ini selain bertanggung jawab atas komponen pelatihan dan penyadartahuan, juga berfungsi untuk memantau kegiatan tersebut berjalan atau tidak,” AW menambah perbedaan kerja PNMP LMP.

Untuk kegiatan peningkatan penyadartahuan bagi para pemangku kepentingan dan masyarakat umum salah satunya dengan menyampaikan informasi yang menggunakan materi cetak dan audiovisual yang berfokus pada kisah-kisah sukses dari tokoh inspiratif yang tujuannya untuk mendorong perubahan perilaku. Contoh materi cetakan adalah dengan membuat kalawarta berbahasa lokal, dan disebarluaskan lewat sekolah dan masyarakat. Brosur berjudul “Mari Jo Torang Bakubantu” digunakan untuk kampanye pembuatan tungku dan arang aktif, guna mengatasi mahalnya bahan bakar minyak, yang dilakukan oleh Vola Harindah, perempuan dari Minahasa yang energik penerima CIDA Award, saat memberikan pelatihan bagi kelompok ibu-ibu di Desa Kinabuhutan, Likupang Barat, Minahasa.

CSO juga berperan dalam peningkatan kapasitas bagi para pelaku PNPM LPM, seperti memberikan pertimbangan teknis terkait tema pengelolaan sumber daya alam dan energi terbarukan, serta memberikan berbagai pelatihan. Metode pelatihan dengan pendekatan dan metode berjenjang, partisipatif dan inovatif, untuk menciptakan suasana belajar yang menyenangkan dan produktif.

“Seperti yang terjadi di Sumatra, masih sering terjadi konflik antara gajah dengan masyarakat. Sejarah kawasan dimana masyarakat tinggal, itu memang merupakan daerah perlintasan gajah. Kalau mau aman ya seharusnya masyarakat pindah. Tapi hal itu tidak mungkin dilakukan. Padahal sekali datang, bukan satu, dua ekor gajah, tapi bisa 50 ekor. Sudah banyak korban dari keduanya,” AW bercerita tentang isu-isu di lapangan.

Untuk mengatasi hal di atas, melalui PNPM LMP dan CSO mitra, WCS-IP membantu masyarakat lokal dengan mengadakah pelatihan teknik penggiringan gajah, dan pentingnya mempertahankan kelompok dalam penggiringan untuk mencapai hasil yang diharapkan serta meminimalisir resiko.

Contoh lain dalam mempercepat peningkatan kapasitas adalah dengan pembuatan Demonstration Plot (demplot) kegiatan di masing-masing kabupaten, seperti demplot untuk biogas, pembibitan tanaman lokal dan pembuatan kompos organik. Dalam pengembangan demplot ini, hal terpenting adalah sistem dinamisnya kelembagaan yang berisi seperangkat aturan dan pengelola yang menjadi penggerak demplot, tanpa berjalannya aturan dan pengelola yang profesional maka demplot akan sulit berkembang,” papar AW mengakhiri presentasinya.

[irma dana & jeni shannaz]

brolan Kamis Sore, 23 Juni 2011
Nara sumber: Agus Wijayanto (Wildlife Conservation Society-IP)
Alamat email ini dilindungi dari robot spam. Anda memerlukan Javascript yang aktif untuk melihatnya.