Who's Online

Kami memiliki 47 tamu dan tidak ada anggota online

Yayasan Gibbon Indonesia

Jl. T. Wiradireja No.216
Cimahpar - Bogor 16155
Jawa Barat - Indonesia
T: +62-251-8657220
F: +62-251-8650132
E: info[at}gibbon-indonesia.org

Monyet Ekor Panjang yang ’Terpinggirkan’ Menjadi Sorotan

Monyet ekor panjang itu yang suka dipakai untuk topeng monyet kan? Bukannya hewan itu menjadi hama? Statusnya tidak

dilindungi kan? Mengapa kita harus susah payah melindunginya, padahal jumlahnya juga masih banyak? Apa ruginya kalau hewan ini tidak ada?

Nah, sebelum kita ”menghakimi” Monyet ekor panjang (Macaca fascicularis, MEP) ini, Diaz Sari Pusparini dari Yayasan IAR Indonesia (YIARI) mengungkapkan beberapa fakta mengenai MEP dalam Obrolan Kamis Sore 10 Januari 2013 lalu.

Memang benar bahwa Monyet ekor panjang bukanlah jenis satwa yang dilindungi, katanya jumlahnya cukup banyak, merupakan jenis yang mudah beradaptasi pada tempat tinggal dan makanan serta bisa ditemukan di mana saja, di kawasan konservasi, taman wisata maupun di hutan-hutan perbatasan dengan pemukiman manusia.

Karena sifat-sifat inilah kerap dijumpai konflik antara MEP dan manusia. Jenis konfliknya akan berbeda tergantung di habitat apa konflik itu terjadi. Konflik tersebut terjadi antara lain karena habitat MEP semakin terdesak, MEP menjadi obyek sakral (pesugihan) maupun obyek hiburan. Konflik ini menimbulkan dampak negatif bagi keduanya. Manusia mengalami kerugian karena lahan pertaniannya diserang dan dirambahkan oleh MEP. Bagi MEP pun konflik ini dapat menghilangkan naluri alaminya, misalnya dengan menyukai makanan manusia.

Untuk mengetahui bagaimana konflik bisa terjadi, Yayasan IAR kemudian melakukan mitigasi konflik di beberapa lokasi a.l: Muara Angke (Jakarta Utara), Curug Nangka (Bogor), Gn. Banten dan di Hutan Kota Tirtosari (keduanya di Bandar Lampung). Tahapan mitigasi tersebut dimulai dari kajian habitat dan survei populasi, identifikasi dan dokumentasi potensi konflik, survei sosial ekonomi, pembuatan laporan kajian dan rekomendasi tindak lanjut.

Pada beberapa tempat ada kesamaan titik potensi konflik, yaitu di tempat sampah, sekitar warung dan di tempat-tempat di mana orang biasa memberi makan MEP. Kebiasaan memberi makan MEP jelas akan menghilangkan sifat alaminya, MEP kerap ”turun” ke jalan dan mengorek tempat sampah, padahal di SM Muara Angke misalnya, masih banyak pohon pakan alaminya, seperti pidada, anggur-angguran dan Avicenia sp. Selain itu, kebiasaan memberi makan ini menyebabkan MEP kerap mendekati manusia dan menjadi agresif bila melihat kantong makanan. Ada pula MEP yang sering masuk ke perumahan penduduk dan mengganggu, biasanya adalah MEP hasil lepasan. Hasil mitigasi di Gn. Banten, di mana kelompok MEP banyak merambah lahan pertanian yang berbatasan dengan hutan, menemukan bahwa jumlah MEP hanya sekitar 37 ekor pada luasan 3 hektar, dari ”ratusan” ekor MEP yang dilaporkan oleh penduduk. Jumlah pasti populasi MEP di alam tidak diketahui karena belum ada penelitian tentang hal tersebut, hanya saja kuota ekspor MEP masih sekitar 12 ribu ekor per tahunnya (2012) dan diawasi oleh LIPI.

Lalu, apa manfaat MEP bagi manusia? Ayut dari YIARI pun menjelaskan, ”Pada dasarnya semua satwa memiliki fungsi yang sama di alam seperti penebar biji alami, apa lagi untuk jenis primata juga sebagai indikator kualitas kondisi sebuah kawasan masih terjaga dengan baik ataukah tidak”.

Lebih jauh lagi, YIARI juga melakukan upaya penyadartahuan kepada masyarakat tentang permasalahan konflik manusia dengan MEP, terutama konflik yang terjadi di sekitar kawasan dan selalu berujung pada MEP yang menjadi “korban”. Pemahaman mengapa kita tidak boleh memberi makan kepada MEP terus dicanangkan termasuk saran-saran untuk membuat tempat sampah yang layak dan tertutup.

Yang harus dipahami pula adalah, bahwa satwa liar ini bukanlah satwa peliharaan yang bisa menjadi “jinak” seperti hewan domestik anjing dan kucing. Mungkin memang terlihat lucu saat bayi atau anakan, tetapi sifat alami sebagai hewan liar akan muncul di saat usia mulai beranjak dewasa. Banyaknya kasus monyet menyerang warga selama ini adalah bentuk pertahanan diri karena MEP merasa terancam, dan beresiko untuk dibunuh tanpa alasan. Satwa liar memang tidak bisa dipaksa untuk tinggal di tempat yang bukan di habitat alaminya. [jeni shannaz]

 

Obrolan Kamis Sore, 10 Januari 2013

Nara sumber: Diaz Sari Pusparini (Yayasan IAR Indonesaia)

Alamat email ini dilindungi dari robot spam. Anda memerlukan Javascript yang aktif untuk melihatnya.