Who's Online

Kami memiliki 54 tamu dan tidak ada anggota online

Yayasan Gibbon Indonesia

Jl. T. Wiradireja No.216
Cimahpar - Bogor 16155
Jawa Barat - Indonesia
T: +62-251-8657220
F: +62-251-8650132
E: info[at}gibbon-indonesia.org

Saat Kritis untuk Melestarikan Gajah Sumatera

Dalam peradaban manusia kita mengenal adanya puncak-puncak capaian mahakarya budaya dan teknologi. Proses kehidupan

di bumi, yang telah berlangsung dalam jangka waktu jauh lebih lama dari peradaban manusia, tentu juga menghasilkan beragam fenomena alam yang menakjubkan.

Gajah dapat dipandang sebagai salah satu puncak capaian proses di alam yang paling menakjubkan. Manusia, sebagai mahluk ‘kemarin sore’ dalam kerangka waktu geologis, mendapat kesempatan untuk hidup berdampingan dengan gajah. Beberapa individu atau kelompok dari Homo sapiens (manusia), bahkan memiliki kesempatan untuk berinteraksi dengan Elephas maximus (gajah) secara cukup intensif. Alhasil, keduanya telah menjalani adaptasi dan saling menyesuaikan. Kebudayaan manusia telah banyak diwarnai oleh interaksinya dengan gajah. Demikian pula gajah, banyak dari mereka yang menjadi cukup akrab dengan manusia.

Dengan jumlah penduduk Homo sapiens yang terus berkembang, ditambah dengan kebutuhan hidup dan tuntutan sumberdaya yang semakin meningkat dari masing-masing individunya, Elephas maximus pun banyak terdesak di sana-sini. Selain terdesak habitatnya dan kehilangan tempat menjelajah di sana-sini, satwa bongsor itupun sering menjadi korban pembunuhan oleh pemburu yang mengincar gading mereka. Sebagai gambaran, hutan lebat yang pada tahun 1930 meliputi 80% luas Sumatera bagian selatan, kini telah hilang dan berubah menjadi area terbuka dan perkebunan. Bahkan gajah juga tidak lagi ditemukan di 9 lokasi dari 12 lokasi yang pernah tercatat di Lampung pada tahun 2002. Ketiga lokasi tempat ditemukannya gajah itu berstatus Taman Nasional dan Hutan Lindung. Di Riau saja populasi gajah menurun hingga 84% antara tahun 1985-2007.

Belum lagi ancaman kematian lainnya, yang biasanya akibat konflik dengan manusia. Gajah sering ditengarai sebagai perusak kebun penduduk. Bahkan di situs www.kliniksawit.com gajah dimasukkan ke dalam jenis hama bagi tanaman sawit. Di tahun 2012 saja ada 15 catatan kematian Gajah sumatera di Riau karena diracun. Keadaan ini menyebabkan status satwa yang dilindungi ini menjadi Kritis berdasarkan kriteria keterancaman oleh IUCN.

Berbagai upaya tengah dilakukan untuk melestarikan gajah di Sumatera, seperti melakukan riset dan pemantauan, melakukan berbagai pendekatan guna membuat kebijakan pengelolaan satwa di tingkat nasional (termasuk membuat panduan konservasi satwa bagi sektor bisnis dan perbaikan orientasi dari Pusat Latihan Gajah=PLG menjadi Pusat Konservasi Gajah=PKG), serta mitigasi konflik di beberapa lokasi (dengan membentuk Elephant Flying Squad).

Memang status Gajah sumatera saat ini adalah Kritis, dan kini adalah saat yang kritis pula untuk melakukan aksi konservasi bersama terhadapnya dengan segera. Dengan demikian, kita dapat mewariskan kemakmuran sekaligus mengembalikan alam yang telah kita pinjam dari anak cucu kita, lengkap dengan gajah yang dengan gagah menggemakan terompet mereka di sudut-sudut belantara Sumatera. [sunarto & jeni shannaz]

Obrolan Kamis Sore, 11 April 2013
Narasumber: Sunarto (Yayasan WWF Indonesia)
e-mail: Alamat email ini dilindungi dari robot spam. Anda memerlukan Javascript yang aktif untuk melihatnya.