Who's Online

Kami memiliki 11 tamu dan tidak ada anggota online

Yayasan Gibbon Indonesia

Jl. T. Wiradireja No.216
Cimahpar - Bogor 16155
Jawa Barat - Indonesia
T: +62-251-8657220
F: +62-251-8650132
E: info[at}gibbon-indonesia.org

OKS Bulan Ini

 

DUKUNGAN KEBIJAKAN PERLINDUNGAN BURUNG CIKALANG CHRISTMAS DI TELUK JAKARTA HARUS DITINGKATKAN
Oleh: Ragil Satriyo Gumilang*

"Dukungan kebijakan untuk perlindungan salah satu burung laut paling langka di dunia, yaitu Cikalang Christmas, khususnya di Teluk Jakarta, ternyata masih sangat kurang. Padahal satu tingkat lagi jenis yang berstatus kritis ini akan punah, serta populasinya di Teluk Jakarta tercatat secara rutin antara 10-20% populasi global"

Obrolan Kamis Sore (OKS) kemarin mengangkat tema yang sangat menarik. Kegiatan rutin yang diadakan Yayasan Gibbon Indonesia mengangkat tema "Melindungi Burung Cikalang Christmas (Fregata andrewsi) di Teluk Jakarta". Pembicaranya adalah Noni Fn Tirtaningtyas dari komunitas Burung Laut Indonesia, yang telah melakukan kegiatan dan penelitian di sana sejak 2009 hingga sekarang.

Diskusi sangat informatif, mendalam, dan interaktif. Mulai dari membahas perilaku ‘burung perompak’ ini, preferensi habitat, pola migrasi, populasi, sebaran, ancaman, perkembangan penelitian dan kegiatan perlindungan, hingga aspek-aspek sosial masyarakat di Teluk Jakarta. Dan salah satu yang sangat menarik perhatian saya adalah mengenai dukungan kebijakan perlindungannya. Baik kebijakan perlindungan jenis, maupun habitatnya di Teluk Jakarta.

Burung yang dikenal sebagai Cikalang di Indonesia ini berkembang biak di Pulau Christmas (Australia), sekitar 300 kilometer bagian Jawa Barat. Mereka seperti begitu betah mencari makan di Teluk Jakarta, padahal kondisi perairannya cukup tercemar, baik oleh sampah domestik atau limbah lain. Serta merupakan wilayah perairan yang ‘cukup sibuk’. Di Teluk Jakarta, mereka biasanya bertengger di bambu sero yang letaknya berada antara pesisir Tanjung Pasir dan Pulau Rambut. Dan pada malam hari umumnya tidur di atas pohon kepuh yang menjulang tinggi di SM Pulau Rambut.

Status perlindungan jenis Cikalang Christmas di Indonesia sudah ‘aman’, karena telah masuk dalam daftar satwa dilindungi bersama Cikalang besar. Meskipun, belum masuk dalam daftar 25 Jenis Satwa Prioritas Konservasi Nasional. Status habitat untuk tidurnya di Teluk Jakarta pun sudah cukup ‘aman’, yaitu di Kawasan Konservasi SM Pulau Rambut.

Namun, sayangnya status habitat sekitar tempat bertenggernya, yaitu di atas bambu-bambu sero di wilayah Teluk Jakarta, belum cukup ‘aman’. Di lokasi bertengger dan wilayah sekitarnya tersebut, belum memiliki status hukum mengikat dalam melindungi atau mempertahankan keberadaannya. Pemilik bambu sero memiliki hak kapan saja untuk mencabut atau meniadakan bambu-bambu itu. Meskipun konon secara praktik, para pemilik tidak merasa terganggu dengan kehadiran burung Cikalang, bahkan kerabat dan saudara mereka yang bekerja menyewakan kapal wisata diuntungkan atas kehadiran Cikalang.

Pada kondisi tersebut di atas dan di kehidupan yang dinamis ini, rasanya kebijakan perlindungan habitat (bertengger) Cikalang harus ditingkatkan. Data dan landasannya sudah cukup jelas dan tersedia. Baik data status populasi, wilayah sebaran, dsb, maupun kewenangan pengelolaan wilayah pesisir Teluk Jakarta.

Mumpung, Raperda DKI Jakarta tentang Rencana Zonasi Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil (RZWP3K) masih belum terbit dan dalam proses pembahasan. Peningkatan kebijakan upaya perlindungan Cikalang Christmas, harus dipastikan dan dimasukkan pada muatan rencana alokasi ruang wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil di RZWP3K melalui proses kebijakan yang memungkinkan, seperti:
1. ‘Alur Laut’, yang mengatur tentang ruang biota laut yang dilindungi.
2. ‘Kawasan Konservasi Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil’, yang mengatur konservasi ekosistem, konservasi spesies dan/atau konservasi sumber daya genetik, daya tarik sumber daya hayati dan non hayati.

Berkaca dari dukungan kebijakan perlindungan Cikalang Christmas di Australia, rasanya bukan pula hal mustahil bagi kita di Indonesia. Pada Juni 2018 lalu, Pemerintah Australia menolak perluasan penambangan fosfat di Pulau Christmas. Semata-mata, dasarnya adalah karena ingin melindungi keberadaan wilayah berbiak bagi Cikalang Christmas, yang jumlah globalnya hanya tersisa sekitar 3.000-4.000 individu dan terus menurun.

*Wetlands International Indonesia, Koordinator CEPA Kemitraan Nasional Konservasi Burung Bermigrasi dan Habitatnya di Indonesia